Selasa, 09 Juni 2009

Cantik Penuh Sensualitas

KIAT KAISAR TIONGKOK MEMILIH SELIR

Bicara soal isteri, pasangan hidup, dan kehidupan seksual seorang kaisar Tiongkok, ternyata bukan hanya masalah memilih permaisuri saja yang bikin seluruh keluarga istana dan abdinya pusing tujuh keliling. Memilih permaisuri yang tepat misalnya terkadang memerlukan waktu berbulan-bulan agar dapat menemukan pasangan yang paling sepadan, cantik, cerdas, berahim subur, dan tak membawa sial bagi sang kaisar.
Memilih selir mungkin tak sesulit itu. Yang penting cantik dan bertubuh aduhai, serta punya kepandaian lain seperti menyanyi, musik, dan menari. Justru sang kaisar yang terkadang pusing tujuh keliling untuk memilih siapa teman “bobo” nya nanti malam, karena rata-rata kaisar Tiongkok memiliki lebih dari 100 orang selir!

Di masa Shang (abad 17-11 SM) dan Zhou misalnya, seorang ahli astrologi akan diminta untuk membaca posisi bintang agar dapat menentukan saat yang tepat bagi para kaisar untuk memadu kasih dengan selir-selirnya. Di Masa Zhou (Abad 11-256 SM), seorang kaisar biasanya memiliki 121 isteri dan selir. Untuk itu disiapkan satu agenda khusus yang harus dipatuhi jadualnya. Pada hari ke 1-9 kaisar akan menghabiskan waktunya bersama 9 dari 81 gundik rendahan. Hari ke 10-12 giliran bermalam dengan 9 dari 27 gundik terhormatnya. Hari ke 13 dihabiskan bersama 9 orang gundik kerajaan. Di hari ke-14 giliran 3 Selir Kerajaan yang menghabiskan waktu bersama Kaisar. Baru pada hari ke-15 dihabiskan berdua saja dengan sang permasuri. Bagaimana dengan ke 15 hari lainnya dalam bulan itu? Jadual untuk paruh kedua dalam satu bulan tetap sama hanya saja urutannya terbalik, dimulai dari Permaisuri, terus sampai ke gundik yang paling rendah!


Jadual yang rumit seperti itu ternyata berakar dari kepercayaan bahwa apabila sang Kaisar menyerap esensi Yin dari parter yang berbeda sebelum dia bersatu dengan permaisuri maka esensi Yang sang kaisar, akan semakin bertambah kuat dan mencapai puncaknya. Dengan begitu kaisar akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memiliki anak keturunan yang sehat dan pintar dari permaisurinya.
Di masa Han (206 SM-220M) jadual rumit itu dihilangkan. Sebagai gantinya para kaisar Han diperbolehkan memilih teman “bobo” sesuai seleranya sendiri, dengan cara masing-masing. Seorang kaisar di masa ini setiap hari akan mengelilingi istana keputren dengan menaiki kereta yang ditarik 3 ekor kambing. Di dekat kamar selir mana kereta itu berhenti, maka selir itulah yang terpilih. Lama kelamaan cara pemilihan ini diketahui oleh para selir. Ada seorang selir yang cerdas lantas meletakkan daun bamboo yang dibubuhi garam di dekat pintu kabarnya. Walhasil setiap hari selalu saja dia yang terpilih menemani kaisar. Lama lama taktik ini ditiru oleh banyak selir istana sehingga sang kambing jadi kebingungan.


Kaisar Han Chengdi yang terobsesi dengan warna hitam punya taktik lain untuk memilih selir. Seluruh dinding istana dicat serba hitam. Tirai dan furniturnya juga berwarna hitam. Seluruh selir dan isteri-isterinya diminta mengenakan pakaian dalam dan gaun berwarna hitam. Pada malam hari semua lilin-lilin (juga berwarna hitam) dimatikan dan para wanita-wanita Han Chengdi digiring ke satu ruangan. Han Chengdi lalu main petak umpet. Siapa tertangkap, dia yang terpilih!


Kaisar Romantis Kaisar Xuanzong dari masa Tang (618-907) punya cara penyeleksian yang lebih romantis. Seluruh 3000 selirnya diminta menyematkan bunga di rambut mereka. Sang kaisar setelah itu melepaskan seekor kupu Rama-Rama (Kupu Gajah). Selir yang rambutnya dihinggapi kupu-kupu itulah yang bakal terpilih.


Kaisar Qingzong, masih dari zaman Tang lebih suka menggunakan anak panah tumpul yang diberi bubuk wewangian. Anak panah itu lalu dilepaskan. Siapa terkena panah dan tubuhnya berbau harum bakal kebagian malam tak terlupakan bersama Kaisar Qingzong.
Dari semua kaisar Tiongkong barangkali tak ada teknik yang lebih puitis dan romantis dibandingkan yang dilakukan oleh Kaisar Chengzong dari masa Ming (1368-1644). Pada musim semi setiap subuh Kaisar Chengzong akan berlayar di danau istana bersama sekelompok selirnya. Di atas perahu kaisar lantas melepaskan ribuan kunang-kunang. Wanita yang rambutnya dihinggapi kunang-kunang akan menjadi finalis. Siapa yang rambutnya paling banyak dihinggapi kunang-kunang bakal jadi ratu sehari dan boleh memonopoli kaisar. Menyiasati taktik kaisar, banyak selir yang tak putus akal. Rambut mereka pun dilumuri minyak mawar. Sebagai akibatnya ada banyak finalis dan ratu yang harus “diladeni” dan ujung-ujungnya justru kaisar yang keok!


Kaisar Chengzhong punya cara lain yang tak kalah puitis. Dia akan menulis dua larik puisi ternama dari masa Tang di atas sehelai daun. Para selir sementara itu diminta untuk menulis dua larik penutupnya. Daun-daun itu lalu dihanyutkan ke kanal di istana. Bila ada dua daun, satu milik kaisar, satu milik selir yang mengalir beriringan, kedua daun akan angkat. Apabila larik-larik puisi di atas kedua daun ternyata berasal dari puisi yang sama, maka selir itulah yang akan terseleksi sebagai teman memadu kasih kaisar malam itu.


Kaisar Paranoid


Lain di zaman Ming lain pula di zaman Qing. Dinasti Qing adalah dinasti yang didirikan oleh suku bangsa Manchuria. Walau telah mengadaptasi banyak kebudayaan orang Han yang mayoritas di Tiongkok, pemerintah Qing masih saja merasa paranoid kalau-kalau kaisarnya akan dibunuh oleh wanita Han yang menyamar sebagai selir. Ketakutan itu kemudian melahirkan sistem penyeleksian selir yang tak kalah unik. Pada pagi hari di mana kaisar memilih selir seperaduannya, dia akan menuliskan nama selir tersebut di sebuah papan khusus berwarna hijau. Selir yang terpilih itu akan menghabiskan waktu seharian untuk menyiapkan diri seperti mandi atau mengharumkan dirinya dengan dupa wangi. Pada malam harinya seorang kasim akan datang untuk mencek identitasnya. Selir ini akan ditelanjangi dan diperiksa dengan seksama kalau-kalau dia menyimpan benda tajam di balik bajunya. Setelah itu dalam keadaan bugil, selir akan dibungkus dengan kantong besar terbuat dari sutera. Orang kasim akan memanggulnya ke kamar tidur kaisar. Setelah “Pertemuan Asmara” dengan kaisar, selir akan “dikemas ulang” dan dikembalikan ke kamarnya.

Daftar Pustaka

Kiat Kaisar Tiongkok Memilih Selir oleh P Atmadibrata

Sumber:

http://id.shvoong.com/humanities/1813368-kiat-kaisar-tiongkok-memilih-selir/






















LAUT KELABU

Cerpen: Wayan Sunarta


Laut itu masih selalu kelabu, sejak berabad-abad lalu. Warna langit yang biru dan sedikit kelam terpantul di lautan kelabu. Pasir yang menghampar hitam seperti tersepuh warna muram. Angin menyisir pohon-pohon nyiur. Jiwaku berdesir…

Entah apa yang memedihkan hatiku ketika menatap lautan kelabu itu? Selalu saja kakiku ingin melangkah ke situ, duduk di sebuah warung kopi sederhana, dan seakan tak jenuh menatap lautan yang tenang, meskipun kelabu.

Secangkir kopi hangat dengan uap air mengepul terhidang di meja. Aku mengambil rokok, menyalakan dan menghisapnya perlahan. Senja akan segera berakhir. Namun aku belum juga mampu merumuskan tujuanku, selain hanya ingin menatap, dan terus menatap lautan kelabu yang menghampar di hadapanku, seperti jubah tua masa silam. Aku merasa jiwaku ingin berkisah, entah apa.

Sejak kanak aku telah menyukai alam pantai. Ayah sering mengajakku memancing atau menangkap ikan menggunakan jaring kecil. Jika laut surut, ikan-ikan kecil akan terjebak di kubangan-kubangan atau ceruk-ceruk dekat pantai. Mungkin ikan-ikan malang itu terlambat menyelamatkan diri dari air laut yang surut, atau terlalu asyik mencari makanan berupa lumut dan plankton.

Dengan girang aku menangkapi ikan-ikan malang itu dan menaruhnya dalam ember kecil. Sekali waktu terdengar teriakan Ayah diantara desah angin pantai, mengingatiku akan bahaya bulu-bulu babi, ubur-ubur, atau ular laut berbisa yang suka sembunyi di ceruk-ceruk karang. Namun, aku tidak peduli. Aku terlalu asyik dengan ikan-ikan kecil yang malang itu. Hingga suatu waktu tiba-tiba saja telapak kakiku yang tidak beralas seperti disengat sesuatu. Aku berteriak kesakitan dan menangis sejadi-jadinya. Ayah panik dan buru-buru membopongku ke pasir pantai.

Dua duri bulu babi telah bersarang dengan nyaman dalam daging telapak kakiku. Tubuhku seketika menggigil dan demam, racun bulu babi menjalar memenuhi buluh-buluh darahku. Ayah membuka kolornya dan buru-buru mengencingi telapak kakiku. Di tengah rasa sakit yang menyengat, aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku melihat air kuning hangat milik Ayah meluncur ke telapak kakiku. Ayah menjelaskan, air kencing konon ampuh melawan racun bulu babi.

Hampir setiap senja aku bermain-main di pantai bersama kawan-kawan sebaya. Aku suka berenang-renang dan sekali waktu membuat bukit-bukit pasir. Ketika pulang, tak lupa aku membawa kerang-kerang beraneka warna. Kupajang kerang-kerang itu di meja belajarku. Dan setiap memandanginya aku selalu rindu untuk datang ke pantai. Seakan antara diriku dan pantai ada suatu tali halus yang mempertautkan.

Ketika Nenek yang menyayangiku meninggal dan mayatnya dikremasi, abu Nenek juga dilarung di laut yang sering kukunjungi itu. Aku tidak begitu sedih saat Nenek meninggal. Aku mulai belajar maklum, usia tua adalah gerbang menuju kematian. Saat itu aku masih merasa ditemani Nenek. Masih ada jasadnya yang bisa kupandangi dengan perasaan kasih. Namun ketika Nenek dikremasi dan abunya ditabur ke laut, aku benar-benar merasa kehilangan orang yang sangat kusayangi dan juga menyayangiku. Di pantai aku menangis terisak-isak. Pandanganku hampa menatap laut yang berwarna kelabu. Waktu itu usiaku 14 tahun.

Namun, bukan karena itu aku selalu terkenang akan laut yang berwarna kelabu. Ada sesuatu, entah apa, yang selalu membuat aku tertarik untuk datang ke tempat ini. Duduk berlama-lama di warung kopi dan menatap laut dengan jiwa yang nglangut. Sepertinya ada segumpal kenangan pedih yang masih terus memanggil-manggil dari kesuraman bawah laut…

***
Laut Kelabu, 1880

Cahaya memantul dari mata pedang dan tombak. Lelaki dan perempuan muda yang tangan dan kakinya terikat itu masih sempat merasakan senja akan angslup. Angin menyisir nyiur-nyiur. Jiwa mereka berdesir…

Bentakan dan teriakan laskar seperti sengatan duri-duri bulu babi.

“Ayo, cepat naik ke tongkang!”

“Cepat! Dasar penghianat!”

“Tidak tahu membalas budi!”

Mereka digiring paksa ke atas tongkang yang sebentar lagi melaju ke arah laut dalam. Angin pantai masih terasa segar. Angin beraroma garam dan ganggang membelai lembut kulit kuning langsat perempuan itu. Juga kulit sawomuda dada lelaki yang ditumbuhi bulu-bulu cukup lebat. Mereka sekilas bersitatap. Dua pasang mata yang diliputi kesedihan sekaligus kebahagiaan, saling beradu, mencoba menyelami kedalaman jiwa masing-masing.

Dua sejoli itu kembali terbayang amarah dan titah raja.

“Kalian telah mempermalukan kerajaan. Kalian telah menjadi aib di negeri ini. Kalian layak dihukum mati!”

Lelaki muda itu hanyalah seorang abdi istana. Seorang abdi kesayangan raja, bahkan telah dianggap sebagai anak sendiri. Lelaki itu dipungut oleh raja ketika ia masih bayi merah yang menangis menjerit-jerit di sebuah gubug ketika peperangan sedang berlangsung. Raja meminta seorang dayang untuk memeliharanya, dan juga menyusuinya. Bayi itu kemudian tumbuh besar menjadi lelaki yang bersih dan tampan. Banyak dayang-dayang muda istana jatuh hati pada lelaki itu.

Suatu kali, selir raja yang masih muda dan jelita berjalan-jalan di taman istana ditemani para dayang. Secara kebetulan selir raja berpapasan dengan lelaki itu. Jiwa mereka berdesir…

Lelaki itu tidak pernah tahu perempuan jelita yang membuat jiwanya berdesir adalah selir raja. Ia terlanjur mabuk kepayang ditikam panah asmara Dewa Kamajaya. Begitu pula perempuan jelita itu lupa pada posisinya sebagai selir raja. Perempuan itu telah digoda oleh Dewi Ratih.

Namun, sesungguhnya perempuan itu telah dipaksa dan terpaksa menjadi selir raja tua. Keluarga perempuan itu sangat miskin dan banyak berutang pada raja. Demi menyelamatkan keluarga dari jeratan utang, perempuan itu bersedia (meski nelangsa) dijadikan selir raja.

Sebelum bertemu di taman istana, perempuan itu telah pernah berjumpa dengan abdi raja itu, pada sebuah keramaian pasar. Saling melirik, dan tertarik, meski diam-diam. Dan, pada waktu yang telah ditentukan Sang Hidup, mereka kembali bertemu di istana dengan posisi yang jauh berbeda, lelaki abdi dan perempuan selir.

Dua sejoli itu tidak mampu lagi menahan gairah untuk bersatu. Diam-diam mereka sering mengadakan pertemuan. Mulanya hanya bersitatap malu-malu, bercengkerama ragu-ragu, tapi akhirnya berani berkasih-kasihan, meski tidak terang-terangan.

Lambat laun raja mencium bau busuk dalam istananya. Permainan mereka, sumber bau busuk itu, terbongkar. Raja murka. Dan, seperti apa yang telah digariskan dalam hukum kerajaan, lelaki yang berani menyelingkuhi selir raja dianggap melawan kekuasaan dan mencemari kerajaan. Hukuman bagi pasangan selingkuh itu adalah maselong, ditenggelamkan ke laut dengan kaki dan tangan terikat.

Laut kelabu. Ombak dan gelombang seperti saling berbagi duka bagi dua sejoli itu. Meski mereka saling mencintai, namun titah adalah titah. Mereka harus dilarung ke dalam laut kelabu.

Sejenak, sebelum perintah, dua sejoli itu saling tatap, dan seperti membisikkan suatu janji…

“Larung! Tenggelamkan!” perintah komandan laskar.

Dua sejoli yang tangan dan kakinya terikat itu dengan kasar diceburkan ke dalam laut kelabu. Percik-percik air menimpa lambung tongkang yang melaju kencang dan menciprati muka-muka masam para laskar kerajaan. Tubuh dua sejoli itu seketika ditelan gelombang, dan bersiap menghuni kerajaan bawah laut, menjadi raja dan ratu terkutuk.

***

Suara desah ombak bergema dalam telingaku. Angin bersuir seperti siul hantu-hantu laut.

“Nadha, di mana kamu?!”

Panggilan itu mengembalikan jiwaku dari bayang-bayang mengerikan. Bayang-bayang yang kerap menghantuiku, yang datang serupa mimpi buruk di siang bolong. Apa aku melamun? Kenapa aku berada di pinggir pantai? Tadi aku duduk merokok dan ngopi di warung langgananku. Apa gerangan yang menggerakkan aku termenung di tepi pantai kelabu ini?

“Nadha, kamu di mana?!” suara itu kembali memanggil.

Kulihat sosok perempuan sebayaku seperti kebingungan mencari sesuatu. Ia memanggil-manggil, namun suaranya seperti dipermainkan angin. Perempuan itu adalah Nadhi, saudara kembarku.

“Aku di sini, Nadhi!” aku melambaikan tangan, memanggil saudara kembarku. Ia berlari-lari kecil ke arahku. Sampai di depanku ia menjatuhkan dirinya di pasir dan berusaha mengatur nafasnya yang seperti desah lautan.

“Kenapa kau suka sekali bengong di tepi pantai ini? Ibu kebingungan mencarimu. Ayo, pulang!”

Rumah kami hanya berjarak satu kilometer dari pantai. Itulah sebabnya aku dengan leluasa bisa bermain-main di pantai ketika senja. Atau sekedar melamun, merenungi lautan yang nampak selalu kelabu. Atau duduk berlama-lama di warung kopi langgananku.

“Semestinya Ibu tahu kebiasaanku, bermain di pantai atau duduk-duduk di warung sederhana itu. Tapi kenapa Ibu kebingungan mencariku? Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diriku.”

“Sudah hampir petang. Dari siang kamu belum makan. Ibu selalu mencemaskan kamu dibanding aku,” Nadhi cemberut.

Aku suka sekali melihat wajah saudara kembarku ketika sedang cemberut. Manis dan menggemaskan. Selalu saja aku menemukan kebahagiaan yang ganjil bila berdekatan atau menatap matanya yang bening berkilau. Samar-samar bisa kurasakan, aku mencintainya tidak hanya sebagai saudara kembar, tetapi lebih dari itu.

Kami, aku dan Nadhi, ditakdirkan lahir sebagai kembar buncing, kembar laki dan perempuan. Menurut cerita Ibu, aku lahir lima menit lebih awal dari Nadhi. Suara tangisku lebih keras dan melengking, sedangkan Nadhi hampir tidak terdengar tangisnya. Saat itu, aku tidak tahu, apa tangisku yang keras itu menandakan aku menyesal atau bahagia lahir ke dunia yang diliputi penderitaan ini.

Bagi tradisi di desa kami yang masih kolot, kelahiran kembar seperti kami merupakan aib bagi desa. Dan, untuk menghindari malapetaka yang diyakini akan menimpa desa, warga mengungsikan kami dan orang tua kami ke pinggiran desa dekat kuburan selama tiga bulan.

Orang tua kami menjalani tradisi kuno itu dengan tabah dan doa. Selama masa pengungsian, kami sering menderita sakit. Meski masih berupa bayi merah, kami bisa merasakan penderitaan orang tua kami yang hidup antara bahagia dan ketakutan. Bahagia karena kelahiran kami. Ketakutan karena berbagai teror ilmu hitam yang disebar oleh warga yang tidak suka pada kami. Kami adalah aib bagi mereka.

Masa-masa rawan selama pengungsian berhasil kami lalui dengan lancar. Namun, gunjingan tentang kami terus saja menyebar dan membuat gerah warga desa. Sejumlah warga menganggap roh yang menitis ke tubuh kami adalah roh terkutuk. Mereka menduga, dalam kehidupan masa lalu, kami telah melakukan kesalahan yang sangat berat sehingga harus lahir kembar buncing. Mereka meyakini, roh yang menitis ke tubuh kami pada kelahiran di masa lalu adalah pasangan selingkuh, yang atas nama kehormatan dan harga diri, layak untuk dimusnahkan.

Akhirnya, untuk menghindari cemooh dan kejadian yang tidak diharapkan, orang tua kami memilih tinggal di sebuah ladang yang dekat dengan pantai. Di sana, kami dibesarkan dalam aroma garam dan ganggang. Masa-masa sulit itu telah lama lewat. Dua puluh tahun telah berlalu.

Senja mulai sirna dari hamparan pantai. Aku merangkul mesra pundak Nadhi. “Ibu mencintai kita berdua, kau dan aku,” bisikku menghiburnya.

Kami seperti dua sejoli yang begitu saja dijatuhkan ke dunia, serupa Adam dan Hawa. Kami kembali ke rumah. Ibu menunggu dengan cemas. Laut kelabu semakin pedih memeram gumpalan kenangan.***


Denpasar, 2004

Sumber: http://jengki.com/2008/02/01/laut-kelabu/










GERSANG

whandie.

Gelap memandang penuh
mengibasi aroma mesum
selir selir berjejer kaku
hening malam meronta
menunggu kekasih hati

aku ikut berjejer
menunggui sang raja
siapa ikut berjejer ?
mengikis sanubari

Sumber:

http://toppuisi.blogspot.com/2008/10/gersang.html












KEKASIHKU SERIBU

whandie.

Itu kekasihku
Ini kekasihku
Semua kekasihku
hanya kamu kekasihku

Kekasihku hanya satu
dua dengan dirimu
empat dengan dirinya
angka ketiga kemana ?
kekasihku tak pernah malu
mengaku diriku

Sumber:

http://toppuisi.blogspot.com/2008/10/kekasihku-seribu.html












LAUT KELABU

Cerpen: Wayan Sunarta


Laut itu masih selalu kelabu, sejak berabad-abad lalu. Warna langit yang biru dan sedikit kelam terpantul di lautan kelabu. Pasir yang menghampar hitam seperti tersepuh warna muram. Angin menyisir pohon-pohon nyiur. Jiwaku berdesir…

Entah apa yang memedihkan hatiku ketika menatap lautan kelabu itu? Selalu saja kakiku ingin melangkah ke situ, duduk di sebuah warung kopi sederhana, dan seakan tak jenuh menatap lautan yang tenang, meskipun kelabu.

Secangkir kopi hangat dengan uap air mengepul terhidang di meja. Aku mengambil rokok, menyalakan dan menghisapnya perlahan. Senja akan segera berakhir. Namun aku belum juga mampu merumuskan tujuanku, selain hanya ingin menatap, dan terus menatap lautan kelabu yang menghampar di hadapanku, seperti jubah tua masa silam. Aku merasa jiwaku ingin berkisah, entah apa.

Sejak kanak aku telah menyukai alam pantai. Ayah sering mengajakku memancing atau menangkap ikan menggunakan jaring kecil. Jika laut surut, ikan-ikan kecil akan terjebak di kubangan-kubangan atau ceruk-ceruk dekat pantai. Mungkin ikan-ikan malang itu terlambat menyelamatkan diri dari air laut yang surut, atau terlalu asyik mencari makanan berupa lumut dan plankton.

Dengan girang aku menangkapi ikan-ikan malang itu dan menaruhnya dalam ember kecil. Sekali waktu terdengar teriakan Ayah diantara desah angin pantai, mengingatiku akan bahaya bulu-bulu babi, ubur-ubur, atau ular laut berbisa yang suka sembunyi di ceruk-ceruk karang. Namun, aku tidak peduli. Aku terlalu asyik dengan ikan-ikan kecil yang malang itu. Hingga suatu waktu tiba-tiba saja telapak kakiku yang tidak beralas seperti disengat sesuatu. Aku berteriak kesakitan dan menangis sejadi-jadinya. Ayah panik dan buru-buru membopongku ke pasir pantai.

Dua duri bulu babi telah bersarang dengan nyaman dalam daging telapak kakiku. Tubuhku seketika menggigil dan demam, racun bulu babi menjalar memenuhi buluh-buluh darahku. Ayah membuka kolornya dan buru-buru mengencingi telapak kakiku. Di tengah rasa sakit yang menyengat, aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku melihat air kuning hangat milik Ayah meluncur ke telapak kakiku. Ayah menjelaskan, air kencing konon ampuh melawan racun bulu babi.

Hampir setiap senja aku bermain-main di pantai bersama kawan-kawan sebaya. Aku suka berenang-renang dan sekali waktu membuat bukit-bukit pasir. Ketika pulang, tak lupa aku membawa kerang-kerang beraneka warna. Kupajang kerang-kerang itu di meja belajarku. Dan setiap memandanginya aku selalu rindu untuk datang ke pantai. Seakan antara diriku dan pantai ada suatu tali halus yang mempertautkan.

Ketika Nenek yang menyayangiku meninggal dan mayatnya dikremasi, abu Nenek juga dilarung di laut yang sering kukunjungi itu. Aku tidak begitu sedih saat Nenek meninggal. Aku mulai belajar maklum, usia tua adalah gerbang menuju kematian. Saat itu aku masih merasa ditemani Nenek. Masih ada jasadnya yang bisa kupandangi dengan perasaan kasih. Namun ketika Nenek dikremasi dan abunya ditabur ke laut, aku benar-benar merasa kehilangan orang yang sangat kusayangi dan juga menyayangiku. Di pantai aku menangis terisak-isak. Pandanganku hampa menatap laut yang berwarna kelabu. Waktu itu usiaku 14 tahun.

Namun, bukan karena itu aku selalu terkenang akan laut yang berwarna kelabu. Ada sesuatu, entah apa, yang selalu membuat aku tertarik untuk datang ke tempat ini. Duduk berlama-lama di warung kopi dan menatap laut dengan jiwa yang nglangut. Sepertinya ada segumpal kenangan pedih yang masih terus memanggil-manggil dari kesuraman bawah laut…

***
Laut Kelabu, 1880

Cahaya memantul dari mata pedang dan tombak. Lelaki dan perempuan muda yang tangan dan kakinya terikat itu masih sempat merasakan senja akan angslup. Angin menyisir nyiur-nyiur. Jiwa mereka berdesir…

Bentakan dan teriakan laskar seperti sengatan duri-duri bulu babi.

“Ayo, cepat naik ke tongkang!”

“Cepat! Dasar penghianat!”

“Tidak tahu membalas budi!”

Mereka digiring paksa ke atas tongkang yang sebentar lagi melaju ke arah laut dalam. Angin pantai masih terasa segar. Angin beraroma garam dan ganggang membelai lembut kulit kuning langsat perempuan itu. Juga kulit sawomuda dada lelaki yang ditumbuhi bulu-bulu cukup lebat. Mereka sekilas bersitatap. Dua pasang mata yang diliputi kesedihan sekaligus kebahagiaan, saling beradu, mencoba menyelami kedalaman jiwa masing-masing.

Dua sejoli itu kembali terbayang amarah dan titah raja.

“Kalian telah mempermalukan kerajaan. Kalian telah menjadi aib di negeri ini. Kalian layak dihukum mati!”

Lelaki muda itu hanyalah seorang abdi istana. Seorang abdi kesayangan raja, bahkan telah dianggap sebagai anak sendiri. Lelaki itu dipungut oleh raja ketika ia masih bayi merah yang menangis menjerit-jerit di sebuah gubug ketika peperangan sedang berlangsung. Raja meminta seorang dayang untuk memeliharanya, dan juga menyusuinya. Bayi itu kemudian tumbuh besar menjadi lelaki yang bersih dan tampan. Banyak dayang-dayang muda istana jatuh hati pada lelaki itu.

Suatu kali, selir raja yang masih muda dan jelita berjalan-jalan di taman istana ditemani para dayang. Secara kebetulan selir raja berpapasan dengan lelaki itu. Jiwa mereka berdesir…

Lelaki itu tidak pernah tahu perempuan jelita yang membuat jiwanya berdesir adalah selir raja. Ia terlanjur mabuk kepayang ditikam panah asmara Dewa Kamajaya. Begitu pula perempuan jelita itu lupa pada posisinya sebagai selir raja. Perempuan itu telah digoda oleh Dewi Ratih.

Namun, sesungguhnya perempuan itu telah dipaksa dan terpaksa menjadi selir raja tua. Keluarga perempuan itu sangat miskin dan banyak berutang pada raja. Demi menyelamatkan keluarga dari jeratan utang, perempuan itu bersedia (meski nelangsa) dijadikan selir raja.

Sebelum bertemu di taman istana, perempuan itu telah pernah berjumpa dengan abdi raja itu, pada sebuah keramaian pasar. Saling melirik, dan tertarik, meski diam-diam. Dan, pada waktu yang telah ditentukan Sang Hidup, mereka kembali bertemu di istana dengan posisi yang jauh berbeda, lelaki abdi dan perempuan selir.

Dua sejoli itu tidak mampu lagi menahan gairah untuk bersatu. Diam-diam mereka sering mengadakan pertemuan. Mulanya hanya bersitatap malu-malu, bercengkerama ragu-ragu, tapi akhirnya berani berkasih-kasihan, meski tidak terang-terangan.

Lambat laun raja mencium bau busuk dalam istananya. Permainan mereka, sumber bau busuk itu, terbongkar. Raja murka. Dan, seperti apa yang telah digariskan dalam hukum kerajaan, lelaki yang berani menyelingkuhi selir raja dianggap melawan kekuasaan dan mencemari kerajaan. Hukuman bagi pasangan selingkuh itu adalah maselong, ditenggelamkan ke laut dengan kaki dan tangan terikat.

Laut kelabu. Ombak dan gelombang seperti saling berbagi duka bagi dua sejoli itu. Meski mereka saling mencintai, namun titah adalah titah. Mereka harus dilarung ke dalam laut kelabu.

Sejenak, sebelum perintah, dua sejoli itu saling tatap, dan seperti membisikkan suatu janji…

“Larung! Tenggelamkan!” perintah komandan laskar.

Dua sejoli yang tangan dan kakinya terikat itu dengan kasar diceburkan ke dalam laut kelabu. Percik-percik air menimpa lambung tongkang yang melaju kencang dan menciprati muka-muka masam para laskar kerajaan. Tubuh dua sejoli itu seketika ditelan gelombang, dan bersiap menghuni kerajaan bawah laut, menjadi raja dan ratu terkutuk.

***

Suara desah ombak bergema dalam telingaku. Angin bersuir seperti siul hantu-hantu laut.

“Nadha, di mana kamu?!”

Panggilan itu mengembalikan jiwaku dari bayang-bayang mengerikan. Bayang-bayang yang kerap menghantuiku, yang datang serupa mimpi buruk di siang bolong. Apa aku melamun? Kenapa aku berada di pinggir pantai? Tadi aku duduk merokok dan ngopi di warung langgananku. Apa gerangan yang menggerakkan aku termenung di tepi pantai kelabu ini?

“Nadha, kamu di mana?!” suara itu kembali memanggil.

Kulihat sosok perempuan sebayaku seperti kebingungan mencari sesuatu. Ia memanggil-manggil, namun suaranya seperti dipermainkan angin. Perempuan itu adalah Nadhi, saudara kembarku.

“Aku di sini, Nadhi!” aku melambaikan tangan, memanggil saudara kembarku. Ia berlari-lari kecil ke arahku. Sampai di depanku ia menjatuhkan dirinya di pasir dan berusaha mengatur nafasnya yang seperti desah lautan.

“Kenapa kau suka sekali bengong di tepi pantai ini? Ibu kebingungan mencarimu. Ayo, pulang!”

Rumah kami hanya berjarak satu kilometer dari pantai. Itulah sebabnya aku dengan leluasa bisa bermain-main di pantai ketika senja. Atau sekedar melamun, merenungi lautan yang nampak selalu kelabu. Atau duduk berlama-lama di warung kopi langgananku.

“Semestinya Ibu tahu kebiasaanku, bermain di pantai atau duduk-duduk di warung sederhana itu. Tapi kenapa Ibu kebingungan mencariku? Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diriku.”

“Sudah hampir petang. Dari siang kamu belum makan. Ibu selalu mencemaskan kamu dibanding aku,” Nadhi cemberut.

Aku suka sekali melihat wajah saudara kembarku ketika sedang cemberut. Manis dan menggemaskan. Selalu saja aku menemukan kebahagiaan yang ganjil bila berdekatan atau menatap matanya yang bening berkilau. Samar-samar bisa kurasakan, aku mencintainya tidak hanya sebagai saudara kembar, tetapi lebih dari itu.

Kami, aku dan Nadhi, ditakdirkan lahir sebagai kembar buncing, kembar laki dan perempuan. Menurut cerita Ibu, aku lahir lima menit lebih awal dari Nadhi. Suara tangisku lebih keras dan melengking, sedangkan Nadhi hampir tidak terdengar tangisnya. Saat itu, aku tidak tahu, apa tangisku yang keras itu menandakan aku menyesal atau bahagia lahir ke dunia yang diliputi penderitaan ini.

Bagi tradisi di desa kami yang masih kolot, kelahiran kembar seperti kami merupakan aib bagi desa. Dan, untuk menghindari malapetaka yang diyakini akan menimpa desa, warga mengungsikan kami dan orang tua kami ke pinggiran desa dekat kuburan selama tiga bulan.

Orang tua kami menjalani tradisi kuno itu dengan tabah dan doa. Selama masa pengungsian, kami sering menderita sakit. Meski masih berupa bayi merah, kami bisa merasakan penderitaan orang tua kami yang hidup antara bahagia dan ketakutan. Bahagia karena kelahiran kami. Ketakutan karena berbagai teror ilmu hitam yang disebar oleh warga yang tidak suka pada kami. Kami adalah aib bagi mereka.

Masa-masa rawan selama pengungsian berhasil kami lalui dengan lancar. Namun, gunjingan tentang kami terus saja menyebar dan membuat gerah warga desa. Sejumlah warga menganggap roh yang menitis ke tubuh kami adalah roh terkutuk. Mereka menduga, dalam kehidupan masa lalu, kami telah melakukan kesalahan yang sangat berat sehingga harus lahir kembar buncing. Mereka meyakini, roh yang menitis ke tubuh kami pada kelahiran di masa lalu adalah pasangan selingkuh, yang atas nama kehormatan dan harga diri, layak untuk dimusnahkan.

Akhirnya, untuk menghindari cemooh dan kejadian yang tidak diharapkan, orang tua kami memilih tinggal di sebuah ladang yang dekat dengan pantai. Di sana, kami dibesarkan dalam aroma garam dan ganggang. Masa-masa sulit itu telah lama lewat. Dua puluh tahun telah berlalu.

Senja mulai sirna dari hamparan pantai. Aku merangkul mesra pundak Nadhi. “Ibu mencintai kita berdua, kau dan aku,” bisikku menghiburnya.

Kami seperti dua sejoli yang begitu saja dijatuhkan ke dunia, serupa Adam dan Hawa. Kami kembali ke rumah. Ibu menunggu dengan cemas. Laut kelabu semakin pedih memeram gumpalan kenangan.***

Denpasar, 2004

Sumber:

http://jengki.com/2008/02/01/laut-kelabu/